1. Tomat
Tomat merupakan tumbuhan
yang pertama kali ditemukan di Amerika Selatan, masih berkerabat dengan terung,
kentang, dan paprika merah ataupun hijau. Tomat termasuk buah karena
strukturnya, mempunyai daging dan biji yang aman apabila ditelan. Namun, hingga
modern ini masih banyak orang yang menganggap tomat sebagai sayuran, mungkin
karena salah satu fungsinya sebagai lalap sayur.
Buah tomat sangat
populer di dunia, apalagi di Indonesia yang sejak lama sekali telah lama
dibudidayakan. Satu hal yang kurang disukai dari tomat adalah ketahanannya yang
lemah, sehingga mudah busuk. Agar tahan lama, tomat harus dibekukan dengan
beberapa langkah yang diawali dengan pemilihan, pencucian, perebusan,
perendaman, pengupasan, dan diakhiri dengan pembekuan dalam lemari es.
Di dalam buah ini
terdapat beragam kandungan yang berguna untuk memelihara fungsi organ tubuh dan
memperlancar segala sistem yang sedang berjalan. Kandungan yang paling banyak
adalah vitamin C dan air, apabila keduanya berkolaborasi di dalam tubuh, maka
akan timbul manfaat tomat untuk kecantikan, yakni mengecilkan pori-pori dan
mencerahkan kulit.
Selain digunakan sebagai
bumbu masakan atau lalap sayuran atau pelengkap sambal, tomat kerap dijadikan
bahan pembuatan masker atau kosmetik dari beberapa produk ternama. Pembuatan
masker tomat ditujukan untuk mengatasi berbagai masalah terkait kesehatan pada
wajah dan kembali menampilkan pesona kecantikan yang seharusnya ada.
2. Kemiri
Kemiri (Aleurites
moluccana), adalah tumbuhan yang bijinya dimanfaatkan sebagai sumber minyak dan
rempah-rempah. Tumbuhan ini masih sekerabat dengan singkong dan termasuk dalam
suku Euphorbiaceae. Dalam perdagangan antarnegara dikenal sebagai candleberry,
Indian walnut, serta candlenut. Pohonnya disebut sebagai varnish tree atau
kukui nut tree. Minyak yang diekstrak dari bijinya berguna dalam industri untuk
digunakan sebagai bahan campuran cat.
Tidak diketahui dengan
tepat asal-usulnya, tumbuhan ini menyebar luas mulai dari India dan Cina,
melewati Asia Tenggara dan Nusantara, hingga Polinesia dan Selandia Baru. Di
Indonesia, kemiri dikenal dengan banyak nama. Di antaranya, kembiri, gambiri,
hambiri, kemili, kemiling, buah kareh (buah
keras, kaminting, Juga muncang, dèrèkan, pidekan, miri, kamèrè,
komèrè, mere, kumbè (''Belitung'') dan lain-lain.
Kemiri terutama ditanam
untuk bijinya; yang setelah diolah sering digunakan dalam masakan Indonesia dan
masakan Malaysia. Di Pulau Jawa, kemiri juga dijadikan sebagai saus kental yang
dimakan dengan sayuran dan nasi. Kemiri memiliki kesamaan dalam rasa dan
tekstur dengan macadamia yang juga memiliki kandungan minyak yang hampir sama.
Kemiri juga dibakar dan dicampur dengan pasta dan garam untuk membuat bumbu
masak khas Hawaii yang disebut inamona. Inamona adalah bumbu masak utama untuk
membuat poke tradisional Hawaii.
Inti biji kemiri
mengandung 60–66% minyak. Di Hawaii, pada masa kuno, kemiri (di sini disebut
kukui) dibakar untuk menghasilkan cahaya. Kemiri disusun berbaris memanjang
pada sehelai daun palem, dinyalakan salah satu ujungnya, dan akan terbakar satu
demi satu setiap 15 menit atau lebih. Ini juga berguna sebagai alat pengukur
waktu. Misalnya, seseorang bisa meminta orang lain untuk kembali ke rumah
sebelum kemiri kedua habis terbakar. Di Tonga, sampai sekarang, kemiri yang
sudah matang (dinamai tuitui) dijadikan pasta (tukilamulamu), dan digunakan
sebagai sabun dan shampoo.
Penanaman kemiri modern
kebanyakan hanya untuk memperoleh minyaknya. Dalam setiap penanaman,
masing-masing pohon akan menghasilkan sekitar 30–80 kg kacang kemiri, dan
sekitar 15 sampai 20% dari berat tersebut merupakan minyak yang didapat.
Kebanyakan minyak yang dihasilkan digunakan secara lokal, tidak diperdagangkan
secara internasional.
Minyak kemiri terutama
mengandung asam oleostearat. Minyak yang lekas mengering ini biasa digunakan
untuk mengawetkan kayu, sebagai pernis atau cat, melapis kertas agar anti-air,
bahan sabun, bahan campuran isolasi, pengganti karet, dan lain-lain. Minyak
kemiri sebagai bahan bakar berkualitas lebih rendah daripada minyak tung,
minyak serupa yang dihasilkan oleh buah tung (Vernicia fordii (sin. Aleurites
fordii) dari Cina dan Aleurites montana).
3. Daun salam
Kayunya berwarna coklat
jingga kemerahan dan berkualitas menengah. Kayu yang tergolong ke dalam kayu
kelat (nama perdagangan) ini dapat dipergunakan sebagai bahan bangunan dan
perabot rumah tangga. Kulit batang salam mengandung tanin, kerap dimanfaatkan
sebagai ubar (untuk mewarnai dan mengawetkan) jala, bahan anyaman dari bambu
dan lain-lain. Kulit batang dan daun salam biasa digunakan sebagai bahan ramuan
tradisional untuk menyembuhkan sakit perut. Buah salam dimakan orang juga,
meski hanya anak-anak yang menyukainya.
Kegunaan Obat
Tradisional
Secara tradisional, daun
salam digunakan sebagai obat sakit perut. Daun salam juga dapat digunakan untuk
menghentikan buang air besar yang berlebihan. Pohon salam bisa juga
dimanfaatkan untuk mengatasi asam urat, stroke, kolesterol tinggi, melancarkan
peredaran darah, radang lambung, diare, gatal-gatal, kencing manis, dan
lain-lain.
Penggunaan daun salam
sebagai obat di atas disebabkan oleh kandungannya yakni pada daun salam kering
terdapat sekitar 0,17% minyak esensial, dengan komponen penting eugenol dan
metil kavikol (methyl chavicol) di dalamnya. Ekstrak etanol dari daun
menunjukkan efek antijamur dan antibakteri, sedangkan ekstrak metanolnya
merupakan anticacing, khususnya pada nematoda kayu pinus Bursaphelenchus
xylophilus. Kandungan kimia yang dikandung tumbuhan ini adalah minyak atsiri,
tannin, dan flavonoida. Bagian pohon yang bisa dimanfaatkan sebagai obat adalah
daun, kulit batang, akar, dan buah.
Ekstrak daun salam 3x250
mg/hari menunjukkan kecenderungan dapat menurunkan kadar gula darah puasa dan 2
jam setelah makan terutama pada kadar gula darah di bawah 200 mg/dL walaupun
secara statistik perbedaannya tidak signifikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar